Jumat, 05 Maret 2010

Busana Betawi dari Masa ke Masa

Menurut sejarawan Australia, Lance Casle, konon, Betawi adalah etnis yang baru lahir. Pendapat itu didasarkannya atas studi demografi penduduk Batavia. Pada sensus tahun 1815-1853, etnis Betawi belum tercatat. Kategori Betawi sebagai etnis, baru muncul pada tahun 1930. Dia menyimpulkan, etnis bernama Betawi adalah campuran Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Bugis, dan Melayu. Situs Bappedajakarta.go.id mencatat etnis penduduk itu adalah mereka yang dijadikan budak belian, yang di abad ke-18 merupakan mayoritas (49%) penduduk Batavia. Jejak percampuran itu didasarkan pula atas studi kebudayaan: baik bahasa maupun kesenian Betawi yang mengandung banyak unsur perpaduan budaya dari etnis pembentuk maupun dari luar. Belum selesai perdebatan soal asal-usul, budaya Betawi akan punah satu generasi mendatang. Alasannya ada dua: karena ketidakpedulian orang betawi terhadap budayanya dan penggusuran orang Betawi ke pinggiran. Dari 4 juta orang Betawi, tinggal 25% yang tinggal di provinsi DKI Jakarta. Bila tesis Lance Casle bahwa orang Beyawi menyatakan dirinya sebagai etnis tahun 1930, itu berarti entitas Betawi akan mati muda. Sesuram itukah?


Identitas yang kabur, dengan stigma keturunan budak belian itu, pernah membuat orang Betawi enggan mengakui etnisnya. Dulu, terutama tahun 1950-an, orang Betawi memilih mengaku sebagai orang Jakarta. Organisasi-organisasi juga diberi nama Jakarta. Saya bersyukur itu sudah mulai berkurang. Sejak tahun 1989 dilakukan serangkaian penelitian terhadap Betawi. Hal itu dilakukan karena ingin manjawab tesis Lance. Setelah mengamati sejumlah situs arkeologi dan menelisik refrensi kepustakaaan. Betawi, tak ubahnya suku Indian dan Aborigin, yang telah lama mendiami tempatnya, kendati diberi nama rujukan indentitas belakangan. Percampuran etnis bisa saja terjadi, tapi percampuran itu dengan orang Betawi, bukan percampuran yang membentuk etnis Betawi.


Pria Betawi zaman dulu, sering mengenakan baju sadariah, sandal jepit dari kulit, celana batik komprang dan menyampirkan sarung di pundaknya lengkap dengan kopiah hitam di kepala. Sedangkan perempuan Betawi, tampil dengan anggun mengenakan kebaya encim, sarung batik, selendang polos, selop beludru dan konde cepol. Itulah gambaran mengenai busana Betawi.


Hanya sayang, sampai sekarang memang belum ada tulisan atau dokumen yang menjelaskan secara pasti mengenai sejarah atau legenda busana Betawi. Namun gambaran seperti itu dapat diperoleh dari cerita orang tua tempo dulu, kira-kira satu atau dua generasi sekarang.


Jika kita mengamati busana Betawi, sebenarnya busana ini mempunyai beragam model. Di setiap wilayah kota Jakarta, banyak ditemukan berbagai ragam model busana Betawi. Makanya tak heran jika kemudian terlihat perbedaan busana yang satu dengan wilayah lainnya khususnya busana Betawi pinggiran dengan busana Betawi di tengah kota.


Ragam buasana Betawi yang sempat hilang dalam percaturan sejarah Jakarta, kini mulai muncul kembali. Minimal, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, kita bisa menyimak perkembangan busana Betawi dari berbagai literatur dan studi. Busana Betawi pada sekitar tahun 1975 yang disebut sebagai titik balik kemunculan Betawi. Pada tahun itu dimulai berbagai studi tentang Betawi dan pada tahun itu juga muncul gerakan pelestarian dan pengembangan budaya Betawi. Kendati terjadi persentuhan dan pembauran budaya dengan berbagai bangsa, ciri khas budaya Betawi ternyata tetap terpelihara.


Itu terlihat jelas pada busana tradisionalnya. Untuk pakaian resmi adat Betawi, salah satunya menunjukkan perpaduan antara budaya Arab, Cina dan Eropa. Jika kita membaca sebuah rangkuman tulisan berjudul “ Apa saja mengenai Jakarta dan Betawi “ yang dikumpulkan oleh Ikatan Abang dan None Betawi Jakarta Pusat, pakaian resmi pria Betawi berupa jas panjang ( baju abang ) warna hitam atau cokelat yang panjangnya setengah paha dengan leher jas dibentuk seperti kerah baju Cina. Jas panjang ini dikenakan dengan paduan celana panjang berpotongan menyempit ke bawah. Biasanya, panjang dua jari dari mata kaki.


Sedangkan untuk pakaian remi perempuan Betawi, biasanya kebaya panjang atau kebaya none dari bahan chifon tembus pandang dan kain batik. Pengaruh Jawa tampak pada kain Pekalongan bermotif tumpal yang digunakan sebagai busana resmi perempuan Betawi. Selain kain Pekalongan, dapat pula digunakan kain dari lasem yang motifnya tak banyak berbeda dengan satu sama lainnya.


Selain pengaruh budaya Jawa dan Cina, busana Betawi juga terpengaruh oleh budaya Arab. Misalnya, terlihat pada busana pengantin Betawi. Nuansa Arab dan Cina amat kental. Sedangkan kata kebaya itu sendiri diambil dari kata “ abaya “, yakni pakaian dari Arab yang biasanya digunakan sebagai baju luar berwarna hitam. Demikian pula dengan baju kerancang, baju kerancang itu dulunya bernama baju encim. Baju ini harganya mahal dan dipakai oleh orang Cina kaya yang biasanya dipanggil encim. Sekarang dikenal sebagai kebaya encim. Meski populer dengan sebutan kebaya encim, ada juga yang menyebutnya sebagai kebaya kerancang yang memiliki bordiran bolong-bolong pada pinggiran kebaya.


Persatuan Wanita Betawi pada waktu itu, sepakat menyebutnya kebaya kerancang, karena menurut mereka, baju betawi bukan baju Cina alias encim. Style busana Betawi antara satu daerah dengan daerah lainnya berbeda. Busana Betawi memiliki ciri khas warna mencolok. Hal ini sesuai dengan karakter orang Betawi yang selalu terbuka dan apa adanya. Sedikit berbeda dengan busana kebaya tradisional Jawa yang didominasi warna gelap.


Dalam perkembangannya busana Betawi terus mengikuti tren dan perkembangan mode. Fleksibelitas itu memudahkan orang yang menyukai warna hitam atau warna kalem dan selalu ingin memakai baju Betawi. Belakangan ini mulai banyak bermunculan pakaian Betawi dengan warna pastel dan silver, sesuai dengan perkembangan zaman maupun perkembangan mode. Untuk perempuan muda, biasanya mengenakan busana Betawi yang disebut juga baju none. Rangkaiannya terdiri dari kebaya dengan beragam warna, kain, selendang dan kerudung. Baju ini menjadi ciri khas dalam pemilihan None Jakarta yang diselenggarakan setiap tahun di Jakarta. Sebagai pelengkap busana, dikenakan kerudung, selendang dan selop.


Busana perempuan Betawi biasanya menggunakan bahan yang tipis dan transparan. Kendati demikian, pemakainya merasa nyaman-nyaman saja, karena mereka memakai kutang panjang sebagai baju dalam. Penggunaan kutang panjang ini sebenarnya tidak wajib dipilih alias bisa disesuaikan dengan perkembangan mode busana mutakhir.


Busana putra Betawi atau pria betawi juga mengenal model sadariah, baju koko, baju kampret, baju abang dan baju demang. Baju abang dan baju demang ini termasuk busana hasil reka cipta Betawi baru. Pengaruh budaya luar pada baju Betawi amat kental. Pada baju sadariah yang seringkali dipilih sebagai alternatif pengganti jas misalnya , ada nuansa Arab dan cina melayu. Seperti halnya jas, Betawi memiliki baju demang yang sering dipakai dalam acara-acara resmi. Baju demang ini berupa jas tutup yang seringkali dikenakan Gubernur DKI Jakarta dalam acara-acara resmi Betawi. Model ini antara lain dipengaruhi Belanda kolonial. Selain baju sadariah dan baju demang, dikenal juga pakaian jawara. Alas kaki untuk jawara biasanya terbuat dari bahan karet dan memiliki multifungsi, selain untuk pelengkap busana, terkadang digunakan pula sebagai alat untuk berkelahi.


Konon, pelengkap busana jawara lainnya juga berfungsi sebagai alat bela diri. Misalnya selendang dan cincin dengan mata dari batu berukuran lumayan besar. Adapula kuku macan berupa gading kecil yang ditempelkan di kancing baju yang dipercaya mengandung kekuatan magic. Bagi tokoh agama, busana yang dikenakan misalnya kain sarung dan kopiah. Untuk atasnya, dikenakan pakaian sadariah. Kalau ingin tampil santai tanpa jas, mereka memilih sadariah yang berbentuk jas.


Bila pergi ke acara pernikahan, pria Betawi memakai kain serebet dengan setelan jas. Sampai sekarang, kain serebet masih menjadi favorit pilihan pria Betawi saat menghadiri acara pernikahan. Perkembangan busana Betawi menunjukkan bahwa busana Betawi mengikuti tren dan perkembangan mode, akan tetapi tetap mepunyai ciri khas dan memiliki jatidiri dari busana Betawi itu sendiri.


Ini kepentingan bersama, maka semua kalangan masyarakat etnis Betawi diajak memperjuangkan keberadaan etnis Betawi. Tradisi dan budaya Betawi telah lama termarjinalisasi di tengah Metropolitan Jakarta Raya sebagai pusat pemerintahan Republik Indonesia dan ibukota Provinsi DKI Jakarta. Alahasil, kegiatan seni dan budaya Betawi selama ini juga tidak berkembang karena terbentur antara lain pendanaan, sementara pembinaan yang diharapkan dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat tidak berjalan. Padahal, keberadaan seni dan budaya Betawi, termasuk perkembangan busananya sepatutnya berkembang seperti etnis lain. Masa budaya di kampung sendiri tidak hidup, sepatutnya pemerintah memperhatikan perkembangan budaya warga Betawi. Untuk itulah, Pemerintah Daerah DKI Jakarta nanti harus mengakomodasi pengakuan etnis Betawi dan menjamin pengangkatan harkat dan martabat masyarakat adat jika tidak menghendaki budaya etnis Betawi lenyap ditelan arus perubahan zaman yang sudah mengglobal. Kalau tidak perkembangan budaya Betawi khususnya busana akan lemah sekali.


Rencana pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi perlindungan masyarakat adat akan menguntungkan posisi nasional etnis Betawi di dalam memperoleh hak-hak tradisionalnya. Karena itulah, dibutuhkan inventarisasi keberadaan masyarakat adat Betawi di Jakarta dengan melacak legitimasi dan inventarisasi masalah mereka. Peluang perlindungan itupun juga ada di konstitusi. Legitimasi keberadaan masyarakat adat Betawi dapat dilacak dari sejumlah peraturan daerah yang pernah dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta atau dokumen rencana jangka pendek dan jangka panjang Pemprov DKI Jakarta. Setelah itu, menginventarisasi masalah masyarakat adat Betawi, terutama bidang pertanahan dan pendidikan. Supaya dapat diterima dan memperoleh justivikasi, diusulkan dilakukannya sosialisasi dan pendekatan kepada para anggota DPR dan DPD, pengawasan terhadap organisasi masyarakat etnis Betawi. Kita perlu menyiapkan diri untuk mengambil kesempatan mempertegas masyarakat adat Betawi.


Pengakuan dapat diikuti dengan pengalokasian dana kompensasi kepada etnis Betawi sekitar 2,5% dari total APBD yang mencapai Rp 20 triliun. Jadi akan sekitar Rp 500 miliar dana kompensasi untuk pendidikan, ekonomi, dan budaya. Pengakuan terhadap etnis Betawi sudah tercakup mutlak dalam persyaratan berdirinya sebuah Negara, karena Betawi merupakan bagian tak terpisahkan dari rakyat Indonesia. Karena itu, pemerintah tidak perlu mempertanyakan kembali eksistensi etnis betawi karena sudah menyatu dengan cita dan semangat kebangsaan Indonesia sebagaimana dirintis Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Yang dihadapai masyarakat Betawi sekarang, ialah pemahaman di kalangan pejabat pemerintah pusat dan daerah terhadap keetnisan Betawi. Kebulatan tekad masyarakat Betawi harus digelorakan kembali dalam memperjuangkan hak-hak tradisionalnya. Alokasi dana kompensasi tersebut, harus mengacu kepada APBD DKI Jakarta sebagaimana digariskan Departemen Dalam Negeri dan Departemen Keuangan. Tuntutan pemberian alokasi hanya dapat digolkan ke dalam anggaran yang dalam nomenklatur APBD tidak dikenal pos dana kompensasi. Ini jelas sulit, karena membutuhkan good will pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Jika pos dana kompensasi dapat digolkan, akan dianggarkan untuk bidang pendidikan anak-anak atau pemuda-pemudi etnis betawi. Harus ada tuntutan agar alokasi APBD untuk pendidikan mencontoh etnis Melayu di Malaysia. Ini membutuhkan keputusan politik. Dana kompensasi untuk masyarakat adat dimungkinkan sebagai konsekuensi pengakuan keberadaan mereka. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia merumuskan alokasi dana kompensasi setelah setiap masyarakat adat melaporkan masalah masing-masing. Setelah laporan masuk, pemerintah bisa berbuat untuk masyarakat adat dengan memanfaatkan dana kompensasi tersebut.


Untuk membangun citra Betawi agar benar-benar baik di mata kalangan masyarakat lainnya, orang Betawi sendiri tentu harus menunjukan bukti. Pemprov DKI Jakarta juga perlu lebih serius melestarikan budaya Betawi, sebagai warna asli Ibukota. Indentitas lokal budaya Betawi dianggap sebagai nilai-nilai luhur orang-orang betawi, sehingga ciri-ciri lokal tersebut ditanamkan kepada anak-anak di Jakarta sejak mereka duduk di sekolah dasar hingga perguruan tinggi.


Budaya Betawi perlu dilihat melalui perspektif kultural sebab tidak sedikit nilai-nilai luhur kebetawian yang patut ditampilkan ke pentas nasional bahkan internasional dan diperkenalkan sebagai promosi kepariwisataan Jakarta. Untuk itu, perlu dirumuskan kembali strategi kepariwisataan yang lebih holistic dan membumi dengan tetap mengikutsertakan nilai-nilai kebetawian dalam promosi sadar wisata. Kesadaran terhadap “local genius” (identitas lokal) kebetawian sudah semestinya ditanamkan kepada masyarakat Jakarta, paling tidak sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah dan tinggi. Akan tetapi mengingat makna “local genius” kebetawian adalah ciri-ciri lokal atau identitas lokal yang bertahun-tahun telah dianggap sebagai nilai-nilai luhur orang Betawi, tidak berlebihan rasanya jika ciri-ciri lokal tersebut ditanamkan kepada anak-anak di Jakarta sejak mereka duduk di sekolah dasar himgga perguruan tinggi.

Di sejumlah sekolah-sekolah di Indonesia sudah memasukkan muatan lokal dalam kurikulum daerah tersebut, antara lain dengan memasukkan budaya dan bahasa lokal sebagai salah satu mata pelajaran bagi peserta didik. Karena itu, perlu dipertimbangkan untuk memasukkan identitas lokal kebetawian dalam muatan lokal kurikulum di sekolah-sekolah di Jakarta.


Tanpa kepedulian pada identitas lokal kebetawian, dapat diramalkan fondasi kepariwisataan Jakarta hanya berputar pada hal-hal fisik belaka yang makin lama makin hilang kekhasannya. Dengan mendirikan Pusat Studi Betawi untuk menunjang pelestarian budaya Betawi sekaligus mendukung program pariwisata yang bersifat identitas lokal. Selain bertujuan untuk melestarikan budaya Betawi, agar masyarakat dapat lebih mendalami budaya Betawi untuk kepentingan promosi industri pariwisata. Pembentukan Pusat Studi Betawi diyakini akan mampu mengembangkan budaya Betawi di antara budaya-budaya dari daerah lainnya.


Pusat Studi Betawi dapat mencari dan menemukan keunggulan atau nilai lebih budaya ini sehingga pada saatnya nanti menjadi pilihan masyarakat untuk menjadikan sebagai nilai-nilai positif yang ada pada kebudayaan ini. Keunggulan dan nilai-nilai positif ini nantinya bisa menjadi sarana pendukung bagi perkembangan industri pariwisata di DKI Jakarta dan Indonesia.Apalagi dilihat dari sudut pandang perkembangan dalam dunia mode, busana Betawi tidak ketinggalan jaman jika berkembang sesuai dengan tren mode yang sesuai, asalkan tidak meninggalkan ciri khas dan jatidiri dari busana Betawi itu sendiri.(dns)***

l wi pada sekitar tahun 1975 yang disebut sebagai titik balik kemunculan Betawi. pada mal, dala

Kamis, 04 Maret 2010

AIR MATA


Kau buat aku merana

Menanti peluh air mata

Tersiksa dan teraniaya

Aku tak sudi mengeluarkan air mata


Kau ciptakan lara

Hadir dengan makna derita

Cemari darah dengan nila

Air mata takkan berubah


Kau lukai tubuhku

Kau cabik-cabik hatiku

Kau nodai aku

Hanya darah dan rintihan yang kau dapatkan


Air mata ini hanya untuk taman hati

Mengalir deras mengikis emosi

Pelepas dahaga sang suci

tetap sadar dalam sunyi dan sepi

Menulis Bisa Menjadi Sumber Penghasilan

Apakah menulis bisa sebagai sumber penghasilan? Sebelum kita menemukan jawaban yang kita inginkan, kita harus mengetahui terlebih dahulu, apa yang menjadi modal penulis bila ingin keterampilan ini menjadi sumber penghasilan.

Menulis memang menuntut ketrampilan. Itu artinya untuk menjadi penulis terampil, tidak dibutuhkan topangan bakat hingga seratus persen sebab keterampilan bisa dipelajari. Tanpa adanya kemauan dan latihan serius, jangan harap keterampilan itu menemukan wujudnya. Juga, jangan percaya jika ada yang menegaskan bahwa menulis itu gampang. Dalam kacamata pragmatik, menurut saya, menulis itu sukar. Pasalnya, bila kita pertalikan dengan wacana komunikasi antarbudaya, seorang penulis mestilah paham situasi dan kondisi budaya pembacanya. Andai tidak, ia akan mengalami gagap komunikasi.

Bakat bukanlah unsur dominan dalam kinerja seorang penulis. Bakat seperti kita ketahui memang penting, sebab ia akan memperlancar kinerja seseorang. Namun, dalam tautan ini, dunia kepenulisan bukanlah dunia gelap yang tidak bisa dipelajari. Asalkan kita tahu kiat dan strateginya, dunia penulisan sangatlah transparan. Penulis berbakat alam pada suatu saat akan mengalami kemacetan produksi karena ilhamnya akan habis. Sebaliknya, penulis yang rajin belajar, rajin membaca – baca teori sastra, akan segera mendapatkan ilham berlebih apabila sedang macet. Hal ini tentulah mudah kita pahami. Pada saat kehabisan ilham, secara teoritis penulis sudah paham bagaimana cara membuat tokoh, menjalin peristiwa, atau melukiskan latar. Jadi, dari sudut kinerja kepenulisan, penulis tidak pernah kehilangan ilham. Bahkan penulis justru piawai menciptakan ilham. Selain itu kita juga perlu memahami karya satra sebagai sistem formal. Pemahaman ini kiranya patut digarisbawahi, mengingat masih banyak diantara kita yang menganggap karya satra sebagai karya yang tidak ilmiah. Karya satra, menurut asumsi sebagian orang, adalah karya imajinatif yang karena itu, boleh ditulis seenaknya. Karya satra seolah terwujud tanpa sistem formal.

Karya sastra, mengandung sejumlah unsur yang sistematis. Unsur ini antara lain tokoh, alur, dan latar. Berdasarkan ramuan unsur tersebut, si penulis membuat karangannya: bagaimana ia memainkan tokoh rekaannya itu di dalam jalinan peristiwa (aluran); dan, bagaimana ia memagari peristiwa tersebut di dalam suatu tempat, waktu, dan suasana (lataran). Ramuan ini membentuk sebuah sistem formal yang tentu saja saling berkait dukung – mendukung, membentuk sebuah kebulatan dan keutuhan yang bernama karya sastra. Jadi, melihat kenyataan ini, mudah – mudahan kita tak apriori lagi terhadap keilmiahan karya sastra.

Bertautan dengan hal di atas, kita sering melihat banyak karya ilmiah - skripsi mahasiswa dan disertasi kandidat doctor – yang ditulis secara kacau. Pokok pikiran dalam alinea tidak terfokus, tidak santun dalam penggunaan ejaan, dan sangat tidak efektif dalam merangkai kalimat. Hal ini , memang, tidak serta merta mencerminkan bahwa si penulisnya bodoh. Namun, dalam wacana akdemik, kekacauan ini membuktikan adanya sistem yang macet. Kemacetan semacam ini, di dalam pandangan psikolinguistik, biasanya disebut dalam istilah kesalahan kompetensi, yakni kesalahan yang dipicu oleh ketidaktahuan seseorang terhadap pengetahuan teoritis kebahasaan. Nah, kalau begitu, apakah kekacauan tersebut juga berkaitan dengan soalan bakat menulis? Karya ilmiah atau karya sastra , saya rasa sangat berhubungan.

Lima kebutuhan manusia untuk mengembangkan dirinya sebagai penulis, yang masing – masing kebutuhan ini akan aktif apabila kebutuhan yang lebih rendah akan terpenuhi, yaitu:

1. Kebutuhan pemuasan dari, yakni hasratnya dalam menumbuhkembangkan segenap kemampuan dirinya; hasrat untuk menjadi diri sepenuh kemampuannya sendiri; hasrat menjadi apa saja yang paling tinggi menurut kemampuannya.

2. Kebutuhan ego, yakni berkaitan dengan harga diri atau kehormatan diri seseorang (percaya diri, prestasi, kemandirian, wawasan pengetahuan, keberhasilan, atau kebebasan berpendapat), bertalian dengan penghargaan diri orang lain atau reputasi (pengakuan, nama baik, prestise, status, gelar, atau kedudukan). Memotivasi diri menulis via kebutuhan ini, setidaknya akan memunculkan tulisan ilmiah.

3. Kebutuhan sosial, yakni memotivasi diri sendiri untuk menulis, jika dipangkalkan dari kebutuhan ini, akan memunculkan tulisan bertopik sosial – kemasyarakatan.

4. Kebutuhan rasa aman, yakni memotivasi diri menulis pelbagai topik yang berkaitan dengan aspek human interest.

5. Kebutuhan fisiologis, yakni membangun motivasi dalam menulis melalui topik yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia.

Mengingat motivasi menulis tidak bersifat relatif, dan mengingat motivasi tersebut bisa diidentifikasikan dengan kebutuhan pembaca, maka bisa dikatakan bahwa memproduksi tulisan pada hakikatnya selaras dengan layanan adab. Layanan adab adalah layanan terbaik yang diberikan seseorang yang berwenang kepada orang lain yang membutuhkannya. Dalam pemahaman ini, yang berwenang itu adalah sang penulis dan yang membutuhkannya adalah pembaca dan dapat diraih memfokuskan pada hal – hal berikut:

1. Obsesi terhadap kualitas yang memuaskan pembaca, karena penentu kualitas tulisan adalah pembaca

2. Berwawasan akademik, yakni penulis yang baik adalah mereka yang gemar memperluas wawasan, mau menerima kritik, anti penjiplakan, logis, gemar berlatih, dan jenaka.

3. Budaya menulis, yakni memiliki budaya menulis, terlebih jika menganggap diri intelek, sangatlah penting.

4. Kemitraan.menulis membutuhkan sejumlah pihak pendukung, seperti sahabat karib, perpustakaan, warung penjual Koran. Peliharalah kemitraan yang telah terjalin dengan baik.

5. Pelatihan, yakni sebagai penulis berkualitas, dan barangkali berbakat, hendaknya kita jangan pernah berhenti belajar, dan apapun yang pada dasarnya akan terus memperbaiki kinerja tulis – menulis kita.

Dan kepenulisan adalah proses mempengaruhi pikiran para pembaca untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Analogi ini tentu saja makin memantapkan keyakinan bahwa eksistensi penulis sama dengan pemimpin atau manager. Oleh karena berpautan dengan proses pengaruh – mempengaruhi, sudah seyogyanya kita mesti memahami jenis – jenis kepenulisan. Menurut hemat saya, berdasarkan gaya pengucapan, jenis kepenulisan dapat dikategorikan sebagai berikut:

1. Kharismatik dan nonkharismatik yang menjadi perbedaannya adalah dari kehangatan, dan kualitas pemilihan pokok pikiran tulisannya yang prima. Sedangkan nonkharismatik biasanya berkesan dingin.

2. Otokratis dan demokratis. Penulis otokratis terkesan angkuh, sedangkan penulis demokratis terkesan persuasif dan cenderung mendorong pembaca kepada hal – hal yang positif.

3. Visioner dan manipulator. Penulis yang visioner cenderung mampu memberikan inspirasi kepada pembacanya, sedangkan penulis yang manipulator bergaya tegas, kasar, berkesan asal tulis, dan penuh dengan hujatan dan fitnahan.

Jenis kepenulisan tentulah berpeluang pada diri kita sendiri, yang harus mempunyai prinsip seorang penulis efektif, yaitu

1. Kenalilah diri kita, sebab sangat penting untuk mendongkrak kualitas dari tulisan kita. Seperti mampu menjalin kemitraan dengan sejumlah pihak, bisa bersikap tegas, memiliki imajinasi dan kejenakaan, memiliki niat, kemauan dan kemampuan analitis, mampu mengubah gaya kepenulisan demi menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.

2. Mengenali situasi dan kondisi kita. Via kekuatan dan kelemahan tersebut kita menggunakan daya analitis untuk memahami situasi dan kondisi kepenulisan, baik internal maupun eksternal.

3. Memilih gaya yang selaras dengan situasi. Gaya kepenulisan bisa dipilih setelah kita sukses mengenali diri dan memahami situasi.

4. Memuasi kebutuhan pembaca, yakni perkembangan pokok pikiran yang pernah ada.

Juga dalam menggunakan kata – kata harus sesederhana mungkin agar tidak mengaburkan makna dari tulisan, menggunakan kata – kata yang sudah dikenal akrab oleh pembaca, dan gunakanlah kata – kata dengan makna yang pasti.

Dengan begitu pembaca akan terhibur dan kagum membacanya, jelas bahwa penulis mempunyai ciri – ciri:

1. Memahami benar – benar visi tulisannya dan sekaligus mampu menentukan misi untuk pembacanya.

2. Mampu menyusun bagan atau struktur organisasi tulisannya berdasarkan visi dan misi-nya.

3. Memahami cara mengeskpresikan dirinya dengan baik, berlandaskan pada asas kalimat efektif dan kesantunan ejaan.

Seorang penulis harus terampil dan cakap dalam berbahasa, makin cerah dan terang pula jalan pikirannya. Atau, seperti yang ditegaskan para filsuf, bahasa adalah jendela hati, yang dapat dianalogikan dengan keterampilan berbahasa alias aktivitas terbaik dalam berbahasa yang mesti dilakukan penulis.

Keterampilan berbahasa mempunyai empat unsur pendukung, yakni keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Tiap unsur ini , selain bersinergi, juga rapat bertalian dengan proses – proses yang mendasari bahasa.

Pasalnya, bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Atau, dalam ungkapan lain, pikiran yang kacau berimbas pada keterampilan berbahasa seseorang.

Oleh karena itu, jika kita kembali ke soal apakah menulis bisa sebagai sumber penghasilan atau tidak? Saya rasa dengan penjelasan yang menjelaskan tentang keterampilan menulis yang bisa dikuasai jika seseorang mempunyai niat, memiliki daya imajinasi, dan rajin berlatih maka penulis akan sukses dalam tulisannya. Tidak percaya? Koran atau TV dalam dunia jurnalisme mempunyai efek menyentuh dunia bisnis dan kalangan perguruan tinggi. Menyusun laporan, proposal, dan notula rapat serta menulis skripsi, tesis, atau disertasi misalnya, adalah imbas dari efek ini. Dampaknya sangat signifikan: ukuran profesional – tidaknya seorang pebisnis (juga penulis) atau seorang akademikus dewasa ini dilandaskan pada cakap tidaknya ia menulis. Contoh ini bisa diteruskan. Namun apapun contoh itu, yang jelas jurnalism effect ini didukung oleh bahasa. Pasalnya bila aktivitas tulis – menulis dijadikan budaya sejak dini, ia akan membuat seseorang mampu berpikir nalar dan sekaligus mampu berimajinasi. Imajinasi, kita tahu, adalah unsur penting yang memicu tumbuhnya perilaku humanistic seseorang. Implikasinya adalah mengenal Bahasa Indonesia secara baik dan benar menjadi hal yang penting dan perlu di perhatikan, khususnya oleh para penulis yang ingin menulis dan tulisannya dapat dijadikan sumber penghasilannya. Tanpa itu semua yang telah di uraikan, tidak akan ada hasilnya. Tetapi dengan itu semua??? Selamat mencoba dan buktikan sendiri!!! (dns). Sumber: Otonomi Bahasa (Wahyu Wibowo)

KISAH 19 HARI PEMANJATAN BUKIT KELAM


Tampang sangar tebing kelam terlihat dari kejauhan kota Sintang, seakan menanti untuk para petualang panjat tebing untuk “memanjatnya” dengan jemari mereka yang kokoh.

Tim panjat tebing dari HIMPALA UNAS dibantu oleh tim pendukung dari MAPALA TEKNIK UNTAN dan KOMPASS SINTANG, berhasil mencapai puncak tebing Kelam (937 mdpl) di kabupaten Sintang, Kalimantan Barat selama 19 hari pemanjatan dengan susah payah.

Pemanjatan kali ini adalah salah satu ekspedisi kesinambungan pemanjatan dan eksplorasi tebing-tebing tinggi di Indonesia setelah tebing Parang (Purwakarta) dan Bambapuang (Enrekang, Sulawesi Selatan).

Perjalanan tim dimulai pada medio Juli 2004. Dari Jakarta, menginap beberapa hari di Pontianak lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Sintang selama 8 jam. Karena kelelahan selama perjalanan, tim memutuskan untuk beristirahat beberapa hari sambil mengurus perijinan, orientasi medan dan jalur pemanjatan.

Dipagi yang dingin tim dipaksa untuk bergegas berangkat menuju bibir tebing, di sekitar Bukit Kelam (masyarakat sekitar menyebutnya) ini cukup dingin dipagi dan malam hari.

Perjalanan menuju bibir tebing memakan waktu 3 jam dengan jalur menanjak yang melelahkan, dengan jumlah barang yang banyak cukup membuat tim yang terdiri dari 8 orang dari HIMPALA UNAS dan 6 orang dari anak-anak Kalimantan kepayahan. Sebelum tengah hari kami sampai di bibir tebing, istirahat sambil berkenalan dengan para penjaga walet yang berada di sana. Bukit kelam termasuk salah satu yang produktif gua-gua waletnya diantara tebing-tebing lain yang berada di Kabupaten Sintang.

Ditengah waktu istirahat kami cukup terperangah dengan semua permukaan dinding tebing yang basah, bahkan sebagian terlihat seperti air terjun, penyebabnya hujan beberapa jam kemarin sore yang cukup lebat. Kondisi hutan di sini memang hutan hujan tropis yang mempunyai intensitas curah hujan yang cukup besar pada musim penghujan, padahal, pada medio bulan Juli ini masa pergantian cuaca kemusim kemarau, seharusnya intensitas hujan berkurang. Vegetasi di sini cukup banyak antara lain kantung semar khas Kalimantan yang dapat ditemui di sekitar Bukit kelam, khususnya area puncaknya.

Malamnya setelah makan, kami briefing untuk beberapa hal yang akan dilakukan besok sesuai jadwal. Tim memutuskan beristirahat sambil membangun pondokan sederhana sebagai base camp selama pemanjatan. Pondokan tersebut terbuat dari bahan batang pohon honje dan beratapkan bahan terpal tenda dan mempersipkan sesaji upacara adat sebagai persembahan bagi roh-roh yang bersemayam di Bukit Kelam sebelum pemanjatan dimulai. Karena pepatah mengatakan “di mana bumi dipijak, di situ bumi dijunjung”. Sesajinya terdiri dari darah dan kepala ayam, kue-kue, rokok juga arak putih. Tempat sesaji harus terbuat dari bambu, khusus untuk lokasi pemanjatan kami yang kebetulan berada di sisi Melayu menggunakan hewan sesajinya ayam kecuali pada sisi Dayak harus memotong babi sebagai hewan sesajinya.

Beberapa hari kemudian pemanjatan dimulai, didahului dengan upacara adat yang dipimpin tetua adat setempat. Tim pertama memulai merayapi dinding dengan beberapa pengaman yang harus ditanam dengan cara dibor, batuan andesitnya sangat keras terkadang memercikkan api sewaktu dibor. Pemanjatan kali ini memaksa kami harus bor to bor karena hanya lintasan ini yang kering pada sisi utara tebing dan tanpa crack (retakan cacat batuan) untuk mengkombinasikan pemakaian pengaman sisip. Jalur semula yang telah tim tentukan bagai air terjun setelah diguyur hujan. Perubahan jalur ini ditentukan setelah observasi sembari berstirahat beberapa hari yang lalu. Kendala keterbatasan alat seperti mata bor dan cincin kait yang berjumlah sekitar 300 buah sempat menggelayuti pikiran kami, penyiasatan efisiensi pemakaian harus dilakukan namun tidak mengurangi keamanan pemanjat.

Sekitar 30 meter lintasan telah terpasang pada sore harinya untuk dilanjutkan beberapa hari dengan menambah ketinggian sekitar 70 meter dan pemanjatan terhenti 2 hari karena hujan lebat disertai angin kencang dan petir yang mengakibatkan semua dinding lintasan kembali basah. Sebelum hujan turun tim sempat menambah ketinggian beberapa meter dan turun karenanya, sebagian tim berkelakar “pemanjatan basah” dan beberapa mengatakan “waterfall climbing” semua sontak tertawa. Bahkan malam harinya, pondokan kami sedikit porak-poranda karena hujan yang berangin kencang, terpaksa kami tidur dengan sedikit berbasah ria, Keesokan harinya kami coba merenovasi dan memodif pondokan kami agar sesuai dengan kondisi cuaca di sini. Cuacanya benar-benar tidak menentu, sekitar satu minggu di sini diperkirakan sudah masuk musim kemarau, mingkin karena pengaruh pemanasan global yang membuat kondisi demikian. Ada keuntungan yang didapat, air menjadi berlimpah dan cukup memenuhi kebutuhan berapa minggu kedepan bahkan untuk mandi sejumlah orang sekalipun. Tapi waktu yang dibutuhkan dalam pemanjatan ini bertambah, artinya persediaan makanan pun harus ditambah. Penyiasatannya kami harus “menggunakan fasilitas di alam sekitar” alias memasak tumbuh-tumbuhan yang ada di hutan untuk mencukupi kebutuhan makanan.

Pemanjatan dilanjutkan beberapa hari dengan menambah ketinggian sekitar 200 meter. Setelah ketinggian bertambah kami memakai teknik alpine style dengan tim pemanjat yang tidak akan turun dan bermalam di ketinggian (flying camp). Sebelumnya kami harus mempersiapkannya dengan memperbaiki lintasan yang zig-zag agar naik dengan meniti tali lebih nyaman, lalu menentukan titik-titik flying camp dan camp logistic di ketinggian tertentu yang telah ditentukan. Sebelumnya tim menggunakan teknik himalayan style, yaitu tim turun ke base camp (pondokan) setelah melakukan pemanjatan. Setelah semuanya siap, tim yang telah ditentukan mulai meniti tali untuk menginap di ketinggian dan memulai pemanjatan dari sana keesokan harinya.

Angin dingin dipagi hari pada ketinggian sekitar 300 meter begitu menghanyutkan untuk meneruskan tidur diselimuti kantung tidur yang begitu nyaman pada kondisi seperti ini, tetapi tanggung jawab yang telah ditentukan menuntut untuk bergegas melanjutkan pemanjatan. Setelah sarapan penuh kalori tim mulai memanjat, tingkat kesulitan pada ketinggian ini makin bertambah, permukaan pada dinding batuan andesit yang hampir rata menuntut kehatian-hatian dan berpikir ekstra agar pemanjatan tetap aman.

Matahari kian meninggi dan teriknya membuat dehidrasi, istirahat sejenak sambil mengunyah coklat dapat memulihkan tenaga yang terkuras. Beberapa puluh meter di atas terlihat overhang (dinding tebing membentuk sudut 90ยบ) menanti kami. Belum terlalu sore tim tiba di bawah overhang untuk bermalam dan melanjutkan pemanjatan yang paling sulit untuk melewatinya dan membutuhkan tenaga ekstra. Tim di base camp begitu gembira dan berharap-harap cemas, sekitar 200 meter tersisa untuk menuju puncak dan yang paling penting tim pemanjat dapat melewati overhang­ karena itulah bagian yang tersulit.

Malam dengan tidur tergantung ratusan meter dari permukaan tanah memang pengalaman yang benar-benar luar biasa, kantuk mulai bergelayut di pelupuk mata dan kami bergegas tidur. Mimpi indah keberhasilan menuju puncak setelah belasan hari memanjat penuh dengan perjuangan seolah menjadi pengiring tidur paling spesial. Hawa dingin yang menusuk memaksa bangun lebih awal untuk mempersiapkan peralatan dan sarapan sebelum melanjutkan pemanjatan. Pemandangan begitu indah dari ketinggian ini hamparan hutan, ladang, dan kota Sintang terlihat dari kejauhan bagaikan permadani bergambar landscape yang mempesona.

Bor to bor dengan jarak sekitar 4 meter terpaksa dilakukan untuk menunjang keselamatan pemanjat bergelantung merayapi dinding seperti cicak di langit-langit rumah. “Kami menghabiskan 7 mata bor untuk melewati overhang melintang 100 meter dengan lebar 4 meter, beberapa kali tim harus jatuh karena kekuatan tangan tak kuat menahan beban tubuh dan peralatan pemanjatan yang melekat begitu berat”. Ujar Davi sebagai anggota tim pemanjat. Selepas tengah hari ujung overhang terlewati, istirahat sambil observasi jalur lalu melanjutkan dengan berganti pemanjat, tujuan selanjutnya sebuah bidang datar belasan meter di atas kami dengan kondisi lintasan yang cukup dilewati dengan agak merangkak tetapi tetap harus hati-hati. Matahari mulai tenggelam, kami baru tiba di bidang datar yang cukup untuk tidur dengan posisi tubuh agak lurus untuk tiga orang. Setelah diskusi untuk melanjutkan besok kami tidur lebih cepat karena terlalu lelah setelah berjibaku dengan lintasan yang sulit walaupun hanya menambah ketinggian tidak terlalu tinggi.

Tim darat bergegas menuju puncak melalui jalur wisata yang lintasannya terbuat dari tangga besi, untuk menyambut tim pemanjat dan bergabung untuk merayakan celebration sebagai tanda kesuksesan tim secara utuh. Dengan harap-harap cemas kami menanti dengan mempersiapkan beberapa titik pengaman untuk kami dan tim pemanjat, walau agak datar kondisi sekitar puncak dipenuhi semak yang menutup sisi terjalnya. Dengan pantauan melalui HT (handytalkie) kami memantau pergerakan tim yang tinggal beberapa meter di bawah kami.

Tim pemanjat satu per satu muncul di puncak, kami bersorak dan sebagian terharu akan keberhasilan tim secara utuh setelah 19 hari berjuang dengan penuh rintangan. Pataka kebesaran HIMPALA UNAS berkibar di puncak Bukit Kelam seolah menghiasi secuil keberhasilan dari pemanjatan dan eksplorasi tebing-tebing tinggi di Indonesia yang belum tuntas.

Pekerjan belum usai, tim pemanjat harus kembali turun dengan teknik clean down, yaitu turun melelui lintasan semula dengan panjang lintasan sekitar 900 meter dan membawa turun perlengkapan yang dibawa. Butuh waktu satu hari untuk membereskan semua dan sampai ke pernukaan tanah.

Seluruh tim berkumpul di pondokan, dengan segala suka cita dan penuh harapan ke depan kami dapat menuntaskan cita-cita kami mencapai puncak-puncak tebing tertinggi di Indonesia bahkan internasional. Terus berjuang…Takkan Henti Kaki Melangkah Tuk Mencapai Puncak Idaman. /dns

Legenda Bukit Kelam

Di Negeri Sintang hidup dua orang keturunan dewa, yaitu Bujang Beji yang bersifat buruk dan Tumenggung Murubai yang bersifat baik. Mereka adalah pemimpin yang sehari – hari bekerja menangkap ikan selain berkebun dan berladang, Tumenggumg Murubai mengusai simpang Sungai Melawi yang ikannya lebih banyak dan Bujang Beji menguasai Simpang Sungai Kapuas. Tumengung murubai menangkap ikan dengan cara membubu tetapi Bujang Beji dengan cara meracun dengan tuba. Bujang Beji tidak suka dengan keberhasilan Tumenggung Murubai dan mencari cara untuk membendung Sungai Melawi agar ikan-ikan agar pindah ke hulu. Bujang beji membawa gunung menggunakan tujuh lembar ilalang untuk memikul guna membendung Sungai Melawi, tiba-tiba ia ditertawakan oleh dewi-dewi genit dari awan Bujang Beji menoleh ke atas dan terjatuh karena menginjak duri sehingga terjatuhlah dan terbenam gunung yang dipikulnya di tanah yang basah. Putuslah harapan Bujang Beji untuk membendung Sungai Melawi. Ia sangat geram dan berniat untuk membunuh dewi-dewi genit itu. Dengan kesaktiannya ia menanam pohon kumpang mambu yang tumbuh subur mencapai awan dengan waktu singkat. Sebelum memanjatnya ia mengadakan upacara adat pedarak-pagelak yaitu upacara sesajian memberi makan roh-roh termasuk para binatang dari yang terbesar sampai yang terkecil, tetapi ia melupakan binatang sampok, sejenis rayap yang jumlahnya tidak terbilang. Binatang ini marah sekali sehingga menggerogoti akar pohon itu, ketika Bujang beji memanjat pohon itu dan belum mencapai awan, pohon itupun tumbang bersama jatuhnya Bujang Beji. Gunung yang terjatuh ke tenah dan terbenam itu adalah Bukit Kekam yang semakin kelam bila terlihat pada senja hari, maka dari itu disebutlah Bukit Kelam oleh masyarakat sekitar.


Minggu, 28 Februari 2010

Suara Mimpi

Mimpi itu datang lagi...
seolah tak mau kalah
dengan mimpi indah yang lalu

Ku terbangun dari tidur malam ini...
Mimpi itu seakan nyata

Takut...
ku coba meraba dinding sisi tubuh

Ku dengar suara itu memanggil...
aku ingin ikut...tapi kaki seakan berat...
ku coba mengangkat...ku tak sanggup

Suara itu datang lagi...
kali ini lebih dekat...
hati ini bergetar

Aku ingin ikut...tidak, di sini saja!
tapi ingin ikut...sesak dalam dada ini
ku ingin menjerit...aku tak sanggup lagi meraba
terseok dan terluka dalam lorong gelap dan panjang

Aku ingin ikut...
berjalan dalam terangan
tak lagi terluka

Aku tak ingin berjalan dalam kecut
dalam kamar bedah yang lembab dan remang

Tapi jangan jadikan aku pengecut
oleh pisau bedahmu tanpa dibius...

Dan aku ingin ikut...untuk merdeka.

Muak dan Sumpek

Aku mau pergi...
kamar ini begitu sumpek
begitu menghimpit
seakan menjepit hingga sesak

Aku mau pergi...
sekonyong-konyong badut-badut keluar
mengolok dan mentertawakan

Aku hanya diam...
yang ku ingin...
aku mau pergi...

Mencari savana subur nan hijau yan hilang
aku mau pergi...

Darah ini keluar begitu deras...
sakit...perih...rasa tersayat...
seperti mau keluar isi perut

Aku mau pergi...
mencari savana subur nan hijau yang hilang.