Minggu, 28 Februari 2010

3 Hari Mencari Keinginan



“Untuk mereka yang telah menemukan,

kehilangan,

dan belum mendapatkan suatu keinginan,

semoga Yang Maha Esa

memberikan apa yang mereka inginkan”


Seorang pria duduk di antara tumpukan gelondongan pohon yang baru ditebang di taman kampus, pria tersebut adalah Iwan mahasiswa yang memiliki hobby bertualang dan mengkonsumsi jengkol, yang menurut dia dapat menambah nafsu makan. Melihat raut wajahnya yang mungil dan imut, seperti ada yang mengganggu pikirannya hingga dia nampak resah dan gelisah.


“Aaah” (gedebuk), seketika Iwan beranjak dari duduknya seperti telah mendapatkan solusi dari keresahan yang sedang dialaminya, dan seketika itu pula tubuh Iwan yang mungil itu terpelanting ke belakang karena kaget. Melihat Iwan terjatuh maka orang-orang yang berada di sekitar taman pun mentertawainya, karena merasa malu Iwan lari secepat kilat meninggalkan tawa yang semakin deras, sederas ombak yang melempar buih ke bibir pantai.


Hari ini Iwan tidak seperti biasanya, keceriaannya seolah terkikis oleh resah, jiwanya galau seperti anak ayam yang jauh dari induknya. Melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul 14.15 kegalauan itu semakin menjadi, menyelimuti diri, memperkosa konsentrasi, hingga perasaan untuk meninggalkan ruang kuliah secepatnya terus menggebu-gebu.


“Pak, maaf”. dengan menunjuk tangan Iwan memotong pembicaraan dosen, “ya, ada apa denganmu”? Jawab dosen yang memberikan kesempatan Iwan untuk proaktif. “ada tugas tidak? untuk menambah nilai” dan ketika itu pula “tit..it… tit..it…(2X)” suara HP nokia 2500 miliknya berdering tanda SMS masuk. Perlahan Iwan mengambl Hp nokia 2500, dari dalam tas dan mematikannya.


Mendengar suara HP yang mengganggu konsentrasi mengajar pak dosen langsung menegur Iwan “Lain kali kalau masuk kuliah matikan HP, tugas akhir bagi kalian adalah menulis bebas dengan topik jengkol”. Sambil melihat waktu, dosen pun mengakhiri perkuliahan. Iwan langsung mengambil dan menyalakan HP, lalu Ia membuka SMS dari seorang teman bernama Atmo, “Wan, keangklingan pak Sandy sekarang, sebelum jengkolnya habis”! setelah membaca pesan, Iwan mengambil langkah seribu menuju angklingan yang terdapat di depan gerbang kampus. Namun keberuntungan belum berpihak padanya, angklingan pak Sandy yang sejak tadi siang ramai dikunjungi mahasiswa telah tutup, karena dagangannya telah habis terjual. Iwan menghampiri pak Sandy, “pak, besok sisain saya semur jengkol ya”! dengan suara lirih dan berharap belas kasihan, berkata pada pak Sandy yang sedang menyapu jalan. Dengan tersenyum pak Sandy menatap wajah Iwan, “nak Iwan disisakan semur jengkol berapa bungkus”? Sambil tersenyum malu Iwan berkata, “satu bungkus pak, 2000an aja, nih duitnya”. Dengan nada ramah pak Sandy menanggapi, “sudah duitnya besok saja, kalau nak Iwan sudah menerima semur jegkolnya”. “Terima kasih, pak”. Sahut Iwan sambil meninggalkan angklingan dengan senyum dan harapan besok Pak Sandy akan membawakan pesanannya.


Ketika sedang berjalan menuju gedung kampus, “Wan…” teriak Atmo yang sedang asik menikmati kopi hitam di bangku taman. Iwan menoleh, berjalan menuju Atmo dengan langkah gontai, seperti orang yang kehilangan hasrat hidup, “gimana, jengkolnya enak gak”? Dengan nada sendu Iwan menjawab, “boro-boro makan, ngeliat juga nggak”. Atmo langsung tertawa geli sambil menawarkan rokok gudang garam filter, yang memang menjadi rokok kesukaan mereka berdua.


Melihat sahabatnya yang sedang diselimuti keresahan, Atmo berusaha menjadi pelipur lara dan berkata “setelah menyantap semur jengkol pak Sandy, rasa-rasanya hidup menjadi lebih bergairah, karena aroma dan rasanya tidak mudah hilang”, dengan sedikit tersenyum Atmo melirik ke arah Iwan. “Ngeledek ya”? Besok gue borong jengkolnya, biar lo nggak kebagian”, dengan kesal Iwan menjawab guyonan Atmo, dan menghisap rokok hingga asapnya menyelimuti hati.


Malam hadir bertaburkan bintang, pesonanya membuat kagum setiap mata yang memandang, hingga tak ada yang sudi untuk mengedipkan matanya sedetikpun. Malam itu bintang membagikan setiap pecahan cahayanya pada semua insan, tetapi cahaya itu tidak sampai pada kamar kos Iwan yang tertutup rapat.

Malam itu memang sangat indah, tetapi malam itu adalah malam ketiga bagi Iwan untuk tidak dapat merasakan nikmatnya semur jengkol pak Sandy, malam itu Iwan hanya dapat menghirup bau jengkol yang keluar dari nafas Atmo yang tertidur lelap dan mendengkur.


Dua hari tiga malam Iwan tidak merasakan nikmatnya semur jengkol, dua hari tiga malam Iwan merindukan nikmatnya semur jengkol, “dua hari tiga malam,” dengan kesal Iwan menaruh pena di atas kertas yang terletak pada meja computer.


Pagi itu Iwan tampak tergesa-gesa, gerakannya cepat, seperti sedang diburu. “Jam berapa sekarang”? Sapa Atmo yang mesih berbaring di kamar, “jam 11.12” jawab Iwan dengan sigap, dan ia pun lekas berlalu dari kamar menuju kampus. Angklingan pak Sandy adalah tempat tujuan utamanya, semur jengkol adalah target makanan yang telah dipesannya.


Dipandangnya angklingan pak Sandy dari kejauhan, beberapa mahasiswa telah berada di sana, menikmati hidangan sederhana yang tersedia. Iwan langsung duduk di bangku kayu yang telah disediakan. “Pak, pesanan saya mana”? Sambil mengambil sebungkus nasi, setelah menerima sebungkus semur jengkol dari pak Sandy, Iwan langsung menuangkan semur jengkol pada bungkusan nasi yang telah dibuka dan disantapnya dengan lahap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar