Jumat, 05 Maret 2010

Busana Betawi dari Masa ke Masa

Menurut sejarawan Australia, Lance Casle, konon, Betawi adalah etnis yang baru lahir. Pendapat itu didasarkannya atas studi demografi penduduk Batavia. Pada sensus tahun 1815-1853, etnis Betawi belum tercatat. Kategori Betawi sebagai etnis, baru muncul pada tahun 1930. Dia menyimpulkan, etnis bernama Betawi adalah campuran Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Bugis, dan Melayu. Situs Bappedajakarta.go.id mencatat etnis penduduk itu adalah mereka yang dijadikan budak belian, yang di abad ke-18 merupakan mayoritas (49%) penduduk Batavia. Jejak percampuran itu didasarkan pula atas studi kebudayaan: baik bahasa maupun kesenian Betawi yang mengandung banyak unsur perpaduan budaya dari etnis pembentuk maupun dari luar. Belum selesai perdebatan soal asal-usul, budaya Betawi akan punah satu generasi mendatang. Alasannya ada dua: karena ketidakpedulian orang betawi terhadap budayanya dan penggusuran orang Betawi ke pinggiran. Dari 4 juta orang Betawi, tinggal 25% yang tinggal di provinsi DKI Jakarta. Bila tesis Lance Casle bahwa orang Beyawi menyatakan dirinya sebagai etnis tahun 1930, itu berarti entitas Betawi akan mati muda. Sesuram itukah?


Identitas yang kabur, dengan stigma keturunan budak belian itu, pernah membuat orang Betawi enggan mengakui etnisnya. Dulu, terutama tahun 1950-an, orang Betawi memilih mengaku sebagai orang Jakarta. Organisasi-organisasi juga diberi nama Jakarta. Saya bersyukur itu sudah mulai berkurang. Sejak tahun 1989 dilakukan serangkaian penelitian terhadap Betawi. Hal itu dilakukan karena ingin manjawab tesis Lance. Setelah mengamati sejumlah situs arkeologi dan menelisik refrensi kepustakaaan. Betawi, tak ubahnya suku Indian dan Aborigin, yang telah lama mendiami tempatnya, kendati diberi nama rujukan indentitas belakangan. Percampuran etnis bisa saja terjadi, tapi percampuran itu dengan orang Betawi, bukan percampuran yang membentuk etnis Betawi.


Pria Betawi zaman dulu, sering mengenakan baju sadariah, sandal jepit dari kulit, celana batik komprang dan menyampirkan sarung di pundaknya lengkap dengan kopiah hitam di kepala. Sedangkan perempuan Betawi, tampil dengan anggun mengenakan kebaya encim, sarung batik, selendang polos, selop beludru dan konde cepol. Itulah gambaran mengenai busana Betawi.


Hanya sayang, sampai sekarang memang belum ada tulisan atau dokumen yang menjelaskan secara pasti mengenai sejarah atau legenda busana Betawi. Namun gambaran seperti itu dapat diperoleh dari cerita orang tua tempo dulu, kira-kira satu atau dua generasi sekarang.


Jika kita mengamati busana Betawi, sebenarnya busana ini mempunyai beragam model. Di setiap wilayah kota Jakarta, banyak ditemukan berbagai ragam model busana Betawi. Makanya tak heran jika kemudian terlihat perbedaan busana yang satu dengan wilayah lainnya khususnya busana Betawi pinggiran dengan busana Betawi di tengah kota.


Ragam buasana Betawi yang sempat hilang dalam percaturan sejarah Jakarta, kini mulai muncul kembali. Minimal, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, kita bisa menyimak perkembangan busana Betawi dari berbagai literatur dan studi. Busana Betawi pada sekitar tahun 1975 yang disebut sebagai titik balik kemunculan Betawi. Pada tahun itu dimulai berbagai studi tentang Betawi dan pada tahun itu juga muncul gerakan pelestarian dan pengembangan budaya Betawi. Kendati terjadi persentuhan dan pembauran budaya dengan berbagai bangsa, ciri khas budaya Betawi ternyata tetap terpelihara.


Itu terlihat jelas pada busana tradisionalnya. Untuk pakaian resmi adat Betawi, salah satunya menunjukkan perpaduan antara budaya Arab, Cina dan Eropa. Jika kita membaca sebuah rangkuman tulisan berjudul “ Apa saja mengenai Jakarta dan Betawi “ yang dikumpulkan oleh Ikatan Abang dan None Betawi Jakarta Pusat, pakaian resmi pria Betawi berupa jas panjang ( baju abang ) warna hitam atau cokelat yang panjangnya setengah paha dengan leher jas dibentuk seperti kerah baju Cina. Jas panjang ini dikenakan dengan paduan celana panjang berpotongan menyempit ke bawah. Biasanya, panjang dua jari dari mata kaki.


Sedangkan untuk pakaian remi perempuan Betawi, biasanya kebaya panjang atau kebaya none dari bahan chifon tembus pandang dan kain batik. Pengaruh Jawa tampak pada kain Pekalongan bermotif tumpal yang digunakan sebagai busana resmi perempuan Betawi. Selain kain Pekalongan, dapat pula digunakan kain dari lasem yang motifnya tak banyak berbeda dengan satu sama lainnya.


Selain pengaruh budaya Jawa dan Cina, busana Betawi juga terpengaruh oleh budaya Arab. Misalnya, terlihat pada busana pengantin Betawi. Nuansa Arab dan Cina amat kental. Sedangkan kata kebaya itu sendiri diambil dari kata “ abaya “, yakni pakaian dari Arab yang biasanya digunakan sebagai baju luar berwarna hitam. Demikian pula dengan baju kerancang, baju kerancang itu dulunya bernama baju encim. Baju ini harganya mahal dan dipakai oleh orang Cina kaya yang biasanya dipanggil encim. Sekarang dikenal sebagai kebaya encim. Meski populer dengan sebutan kebaya encim, ada juga yang menyebutnya sebagai kebaya kerancang yang memiliki bordiran bolong-bolong pada pinggiran kebaya.


Persatuan Wanita Betawi pada waktu itu, sepakat menyebutnya kebaya kerancang, karena menurut mereka, baju betawi bukan baju Cina alias encim. Style busana Betawi antara satu daerah dengan daerah lainnya berbeda. Busana Betawi memiliki ciri khas warna mencolok. Hal ini sesuai dengan karakter orang Betawi yang selalu terbuka dan apa adanya. Sedikit berbeda dengan busana kebaya tradisional Jawa yang didominasi warna gelap.


Dalam perkembangannya busana Betawi terus mengikuti tren dan perkembangan mode. Fleksibelitas itu memudahkan orang yang menyukai warna hitam atau warna kalem dan selalu ingin memakai baju Betawi. Belakangan ini mulai banyak bermunculan pakaian Betawi dengan warna pastel dan silver, sesuai dengan perkembangan zaman maupun perkembangan mode. Untuk perempuan muda, biasanya mengenakan busana Betawi yang disebut juga baju none. Rangkaiannya terdiri dari kebaya dengan beragam warna, kain, selendang dan kerudung. Baju ini menjadi ciri khas dalam pemilihan None Jakarta yang diselenggarakan setiap tahun di Jakarta. Sebagai pelengkap busana, dikenakan kerudung, selendang dan selop.


Busana perempuan Betawi biasanya menggunakan bahan yang tipis dan transparan. Kendati demikian, pemakainya merasa nyaman-nyaman saja, karena mereka memakai kutang panjang sebagai baju dalam. Penggunaan kutang panjang ini sebenarnya tidak wajib dipilih alias bisa disesuaikan dengan perkembangan mode busana mutakhir.


Busana putra Betawi atau pria betawi juga mengenal model sadariah, baju koko, baju kampret, baju abang dan baju demang. Baju abang dan baju demang ini termasuk busana hasil reka cipta Betawi baru. Pengaruh budaya luar pada baju Betawi amat kental. Pada baju sadariah yang seringkali dipilih sebagai alternatif pengganti jas misalnya , ada nuansa Arab dan cina melayu. Seperti halnya jas, Betawi memiliki baju demang yang sering dipakai dalam acara-acara resmi. Baju demang ini berupa jas tutup yang seringkali dikenakan Gubernur DKI Jakarta dalam acara-acara resmi Betawi. Model ini antara lain dipengaruhi Belanda kolonial. Selain baju sadariah dan baju demang, dikenal juga pakaian jawara. Alas kaki untuk jawara biasanya terbuat dari bahan karet dan memiliki multifungsi, selain untuk pelengkap busana, terkadang digunakan pula sebagai alat untuk berkelahi.


Konon, pelengkap busana jawara lainnya juga berfungsi sebagai alat bela diri. Misalnya selendang dan cincin dengan mata dari batu berukuran lumayan besar. Adapula kuku macan berupa gading kecil yang ditempelkan di kancing baju yang dipercaya mengandung kekuatan magic. Bagi tokoh agama, busana yang dikenakan misalnya kain sarung dan kopiah. Untuk atasnya, dikenakan pakaian sadariah. Kalau ingin tampil santai tanpa jas, mereka memilih sadariah yang berbentuk jas.


Bila pergi ke acara pernikahan, pria Betawi memakai kain serebet dengan setelan jas. Sampai sekarang, kain serebet masih menjadi favorit pilihan pria Betawi saat menghadiri acara pernikahan. Perkembangan busana Betawi menunjukkan bahwa busana Betawi mengikuti tren dan perkembangan mode, akan tetapi tetap mepunyai ciri khas dan memiliki jatidiri dari busana Betawi itu sendiri.


Ini kepentingan bersama, maka semua kalangan masyarakat etnis Betawi diajak memperjuangkan keberadaan etnis Betawi. Tradisi dan budaya Betawi telah lama termarjinalisasi di tengah Metropolitan Jakarta Raya sebagai pusat pemerintahan Republik Indonesia dan ibukota Provinsi DKI Jakarta. Alahasil, kegiatan seni dan budaya Betawi selama ini juga tidak berkembang karena terbentur antara lain pendanaan, sementara pembinaan yang diharapkan dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat tidak berjalan. Padahal, keberadaan seni dan budaya Betawi, termasuk perkembangan busananya sepatutnya berkembang seperti etnis lain. Masa budaya di kampung sendiri tidak hidup, sepatutnya pemerintah memperhatikan perkembangan budaya warga Betawi. Untuk itulah, Pemerintah Daerah DKI Jakarta nanti harus mengakomodasi pengakuan etnis Betawi dan menjamin pengangkatan harkat dan martabat masyarakat adat jika tidak menghendaki budaya etnis Betawi lenyap ditelan arus perubahan zaman yang sudah mengglobal. Kalau tidak perkembangan budaya Betawi khususnya busana akan lemah sekali.


Rencana pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi perlindungan masyarakat adat akan menguntungkan posisi nasional etnis Betawi di dalam memperoleh hak-hak tradisionalnya. Karena itulah, dibutuhkan inventarisasi keberadaan masyarakat adat Betawi di Jakarta dengan melacak legitimasi dan inventarisasi masalah mereka. Peluang perlindungan itupun juga ada di konstitusi. Legitimasi keberadaan masyarakat adat Betawi dapat dilacak dari sejumlah peraturan daerah yang pernah dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta atau dokumen rencana jangka pendek dan jangka panjang Pemprov DKI Jakarta. Setelah itu, menginventarisasi masalah masyarakat adat Betawi, terutama bidang pertanahan dan pendidikan. Supaya dapat diterima dan memperoleh justivikasi, diusulkan dilakukannya sosialisasi dan pendekatan kepada para anggota DPR dan DPD, pengawasan terhadap organisasi masyarakat etnis Betawi. Kita perlu menyiapkan diri untuk mengambil kesempatan mempertegas masyarakat adat Betawi.


Pengakuan dapat diikuti dengan pengalokasian dana kompensasi kepada etnis Betawi sekitar 2,5% dari total APBD yang mencapai Rp 20 triliun. Jadi akan sekitar Rp 500 miliar dana kompensasi untuk pendidikan, ekonomi, dan budaya. Pengakuan terhadap etnis Betawi sudah tercakup mutlak dalam persyaratan berdirinya sebuah Negara, karena Betawi merupakan bagian tak terpisahkan dari rakyat Indonesia. Karena itu, pemerintah tidak perlu mempertanyakan kembali eksistensi etnis betawi karena sudah menyatu dengan cita dan semangat kebangsaan Indonesia sebagaimana dirintis Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Yang dihadapai masyarakat Betawi sekarang, ialah pemahaman di kalangan pejabat pemerintah pusat dan daerah terhadap keetnisan Betawi. Kebulatan tekad masyarakat Betawi harus digelorakan kembali dalam memperjuangkan hak-hak tradisionalnya. Alokasi dana kompensasi tersebut, harus mengacu kepada APBD DKI Jakarta sebagaimana digariskan Departemen Dalam Negeri dan Departemen Keuangan. Tuntutan pemberian alokasi hanya dapat digolkan ke dalam anggaran yang dalam nomenklatur APBD tidak dikenal pos dana kompensasi. Ini jelas sulit, karena membutuhkan good will pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Jika pos dana kompensasi dapat digolkan, akan dianggarkan untuk bidang pendidikan anak-anak atau pemuda-pemudi etnis betawi. Harus ada tuntutan agar alokasi APBD untuk pendidikan mencontoh etnis Melayu di Malaysia. Ini membutuhkan keputusan politik. Dana kompensasi untuk masyarakat adat dimungkinkan sebagai konsekuensi pengakuan keberadaan mereka. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia merumuskan alokasi dana kompensasi setelah setiap masyarakat adat melaporkan masalah masing-masing. Setelah laporan masuk, pemerintah bisa berbuat untuk masyarakat adat dengan memanfaatkan dana kompensasi tersebut.


Untuk membangun citra Betawi agar benar-benar baik di mata kalangan masyarakat lainnya, orang Betawi sendiri tentu harus menunjukan bukti. Pemprov DKI Jakarta juga perlu lebih serius melestarikan budaya Betawi, sebagai warna asli Ibukota. Indentitas lokal budaya Betawi dianggap sebagai nilai-nilai luhur orang-orang betawi, sehingga ciri-ciri lokal tersebut ditanamkan kepada anak-anak di Jakarta sejak mereka duduk di sekolah dasar hingga perguruan tinggi.


Budaya Betawi perlu dilihat melalui perspektif kultural sebab tidak sedikit nilai-nilai luhur kebetawian yang patut ditampilkan ke pentas nasional bahkan internasional dan diperkenalkan sebagai promosi kepariwisataan Jakarta. Untuk itu, perlu dirumuskan kembali strategi kepariwisataan yang lebih holistic dan membumi dengan tetap mengikutsertakan nilai-nilai kebetawian dalam promosi sadar wisata. Kesadaran terhadap “local genius” (identitas lokal) kebetawian sudah semestinya ditanamkan kepada masyarakat Jakarta, paling tidak sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah dan tinggi. Akan tetapi mengingat makna “local genius” kebetawian adalah ciri-ciri lokal atau identitas lokal yang bertahun-tahun telah dianggap sebagai nilai-nilai luhur orang Betawi, tidak berlebihan rasanya jika ciri-ciri lokal tersebut ditanamkan kepada anak-anak di Jakarta sejak mereka duduk di sekolah dasar himgga perguruan tinggi.

Di sejumlah sekolah-sekolah di Indonesia sudah memasukkan muatan lokal dalam kurikulum daerah tersebut, antara lain dengan memasukkan budaya dan bahasa lokal sebagai salah satu mata pelajaran bagi peserta didik. Karena itu, perlu dipertimbangkan untuk memasukkan identitas lokal kebetawian dalam muatan lokal kurikulum di sekolah-sekolah di Jakarta.


Tanpa kepedulian pada identitas lokal kebetawian, dapat diramalkan fondasi kepariwisataan Jakarta hanya berputar pada hal-hal fisik belaka yang makin lama makin hilang kekhasannya. Dengan mendirikan Pusat Studi Betawi untuk menunjang pelestarian budaya Betawi sekaligus mendukung program pariwisata yang bersifat identitas lokal. Selain bertujuan untuk melestarikan budaya Betawi, agar masyarakat dapat lebih mendalami budaya Betawi untuk kepentingan promosi industri pariwisata. Pembentukan Pusat Studi Betawi diyakini akan mampu mengembangkan budaya Betawi di antara budaya-budaya dari daerah lainnya.


Pusat Studi Betawi dapat mencari dan menemukan keunggulan atau nilai lebih budaya ini sehingga pada saatnya nanti menjadi pilihan masyarakat untuk menjadikan sebagai nilai-nilai positif yang ada pada kebudayaan ini. Keunggulan dan nilai-nilai positif ini nantinya bisa menjadi sarana pendukung bagi perkembangan industri pariwisata di DKI Jakarta dan Indonesia.Apalagi dilihat dari sudut pandang perkembangan dalam dunia mode, busana Betawi tidak ketinggalan jaman jika berkembang sesuai dengan tren mode yang sesuai, asalkan tidak meninggalkan ciri khas dan jatidiri dari busana Betawi itu sendiri.(dns)***

l wi pada sekitar tahun 1975 yang disebut sebagai titik balik kemunculan Betawi. pada mal, dala

Tidak ada komentar:

Posting Komentar